Pekerjaan di waktu sekarang. Contoh: Saya sedang menulis sebuah surat.
Pekerjaan yang berulang-ulang atau rutin, baik di masa sekarang maupun di masa lalu. Contoh:
Ayah saya bekerja di pabrik gula.
Ibu pergi ke sawah setiap pagi.
Saya dulu suka bermain di sungai.
Perbuatan yang belum dilakukan atau akan dilakukan di masa yang akan datang. Contoh:
Hasan belum membeli makanan untuk hari ini.
Maryam akan pergi ke Jakarta besok.
Larangan
Wahai anakku, janganlah bermain di jalan raya!
Pola fi’il mudhori’ dasar (yang berasal dari 3 huruf) ada 3:
Yaf’alu
Yaf’ilu
Yaf’ulu
Pola di atas tidak ditentukan oleh pola fi’il madhi-nya.
Fi’il madhi yang berpola “fa’ala” bisa saja pola fi’il mudhori’-nya untuk suatu fi’il adalah “yaf’alu”, untuk fi’il yang adalah “yaf’ulu”, dan yang lainnya bisa “yaf’ilu”.
Perubahan fi’il madhi yang terdiri dari 3 huruf menjadi fi’il mudhori itu bersifat sama’i (سماعي). Harus dihafal.
Sama’i adalah sebutan untuk tata bahasa yang hanya bisa diketahui melalui apa yang didengar dari ucapan orang Arab. Tidak bisa diukur aturan atau pola tertentu.
Lawan sama’i adalah qiyasi.
Tamrin 6 : Hitungan 20-30
Untuk 20 ke atas, bilangan dibagi 2, yaitu puluhan dan satuan.
Urutannya selalu:
“satuan” + و + “puluhan” + ma’dud
Ma’dud untuk bilangan 20 ke atas, sama seperti bilangan 11-19, yaitu:
mufrod
diakhiri fathah dan tanwin
tanpa ال
Bilangan satuan di sini selalu:
Tanpa ال
Diakhiri tanwin
Berlawan dengan ma’dud dari segi mudzakkar dan muannats, kecuali 1 dan 2.
Harakat bisa berubah-ubah antara dhommah, fathah, dan kasroh.
Puluhannya selalu diakhiri dengan ون atau ين
Tamrin 8 : “Mubakkiron” dan “Mutaakkhiron” (Penggunaan kata sifat untuk perbuatan)
“Mubakkiron” artinya “lebih awal dari waktu yang ditentukan”
“Mutaakhhiron” artinya “terlambat”
Keduanya adalah contoh penggunaan kata sifat untuk mendeskripsikan keadaan pelaku/fa’il ketika melakukan suatu perbuatan.
Kata sifat yang digunakan seperti ini, punya ketentuan:
Nakirah, tanpa ال, diakhiri tanwin
Berakhiran fathah
Mengikuti pelaku/fa’il dari segi:
Mudzakkar dan muannats
Mufrod, mutsanna, dan jama’
Tamrin 9 : Mengenalkan Keterangan untuk Menjelaskan Intensitas/Frekuensi Perbuatan.
‘Da-iman’ artinya “selalu”
‘Ahyanan’ artinya ‘terkadang’ atau ‘kadang-kadang’
‘Marrotan ukhro’ artinya ‘sekali lagi’
Kata-kata di atas tidak ada kaitannya dengan fa’il (beda dari yang di tamrin 8), sehingga tidak terpengaruh fa’il. Selalu sama, siapa pun fai’lnya.